Banjir

By kriswisman

Malam hari ketika sedang tidur banyak warga Jakarta yang terbangun karena banjir melanda kota ini. Air menggenangi sebagian atau bisa dikatakan hampir seluruh rumah warga diJakarta. Melihat semakin tingginya genangan air, warga berusaha untuk melakukan evakuasi baik diri dan harta berharga.
Dari dahulu permasalahan yang terjadi diwilayah ini adalah banjir, banjir dan banjir. Kenapa banjir tidak bisa diminimalisir seminim mungkin. Melihat dari permasalahan ini seharusnya kita bisa belajar dari banjir tahun 2002 lalu dan itu bisa dijadikan tolok ukur sebagai pembelajaran.
Menurut saya banyak yang menyebabkan terjadinya banjir diwilayah ini. Dimulai dengan jarangnya saluran air di ibukota yang dengan skala yang sangat besar, minimnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, atau permasalahan teknis lainnya. Disini kita tidak bisa saling menyalahkan, karena tidak ada seseorangpun yang ingin disalahkan. Kalaupun ada yang disalahkan, setiap diri manusia harus merasa dirinyalah yang bersalah.
Kenapa kita harus menyalahkan diri kita sendiri? Kesadaran akan membuang sampah, menata segala sesuatunya menjadi lebih bersih, dan penciptaan kenyamanan dan ketertiban dimulai dari diri sendiri. Kita harus membangun kesadaran itu sendiri. Untuk menunjang kesadaran itu pemerintah juga harus menyediakan sarana umum yang lebih baik dan merata serta semuanya harus lebih dari cukup, hal ini dimaksudkan agar para masyarakat tidak ada yang beralasan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Penyediaan sarana seperti saluran tambahan dirasakan kurang cukup dan harus ditambah, kalau perlu pemerintah harus membangun saluran air yang sangat besar didalam tanah untuk langsung dialirkan ke laut atau tempat penampungan lain yang lebih tinggi. Biaya untuk membangunnya memang mahal tetapi nyawa warga masyarakat dan biaya masyarakat yang tertimpa banjir lebih mahal lagi dibanding membangun saluran air tersebut.
Saya sedikit kesal ketika seorang ibu-ibu dipinggiran kali diwawancarai perihal kenapa dia membuang sampah dikali. Dengan entengnya mereka menjawab MEMANG ITU tempat membuang sampah dan HAL ITU telah menjadi kebiasaan dan sejauh ini tidak ada masalah. Bayangkan ketika seorang ibu telah puluhan kali membuang sampah, bayangkan juga apabila hal ini dilakukan oleh puluhan atau bahkan ratusan ibu-ibu lainnya. Agar warga masyarakat melakukan kedisiplinan memang diperlukan ketegasan hukum yang sangat besar dan tentunya tanpa pandang bulu. Hukuman yang tepat untuk pelanggar seperti ini bukanlah denda ataupun penjara. Karena hal itu bisa berdampak pada hal-hal negatif lainnya. Hukuman yang paling pantas adalah hukuman cambuk, sesuai dengan dampak dari kesalahan yang dilakukan oleh sipelanggar. Seperti contoh: apabila seorang membuang sampah kekali. Hal itu kelak akan berakibat pada banjir dan banjir akan membuat banyak orang menjadi sengsara dan mengalami kerugian. Pelanggar seperti ini harus diberikan 6-7 x hukuman cambuk. Dll.
Ketika negara singapura ingin mengubah wajah negeri itu menjadi sebuah negara yang lebih baik. Pemimpin negara itu membuat banyak keputusan yang terkait dengan kedisiplinan dalam hal keindahan negara tersebut. Hasilnya, kesadaran masyarakatnya akan kebersihan serta kedisiplinan patut diacungi jempol. Tentunya anda ingin mengetahui hukuman apa yang diterapkan. CAMBUK.
Hukum inipun tentunya bisa dijalankan, apabila pemerintah juga menyediakan sarana yang mencukupi dan sarana yang sangat baik. Prasarana ini dibutuhkan agar para pelanggar ini tidak bisa berdalih ketika mereka melakukan kesalahan. Dan tentunya hal ini digunakan untuk membuat mereka mudah untuk membuang sampah.
Saya pernah berkhayal ketika banjir ini melanda kita. Bagaimana ketika negara kita bisa seperti Belanda. Belanda Zaman dahulu, ketika negara tersebut selalu dilanda banjir dan sebagian negara tersebut adalah lautan, mereka membendung lautan, membangun penghalau air bah, pemecah badai dan menciptakan penutup lainnya. Hal ini mungkin saja dilakukan diindonesia. Keuntungan dari hal itu tentunya setiap pulau di negara ini bisa tersambungkan. Mungkin saja luas tanah ini bisa bertambah, atau banyak hal lainnya yang membuat negara ini mendapatkan keuntungan.
Saya mencintai negara ini, membangun negara ini seperti sebuah keluarga membangun rumah beserta keluarganya. Dibutuhkan aturan yang tegas dan mendidik agar rumah tersebut terasa nyaman dan enak untuk disinggahi. Tentunya setiap anggota keluarga punya kewajiban-kewajiban tersendiri agar keluarga tersebut menjadi lebih baik.

Leave a Reply